Aris Asnawi Nyaris Bentrok dengan Teman Sendiri untuk Perangi Kemaksiatan

 


H Aris Asnawi ( paling kanan) bersama teman-teman.ketika mengikuti satu acara di Hotel Clarion (sekarang Hotel Claro), beberapa waktu lalu.
(Foto: Dok. Istimewa).   

Nostalgia Ketegasan Mendiang Aris Asnawi Kutuk Maksiat meski Berhadapan dengan Teman

Nuansabaru.id, SIDRAP - Kepergian sosok wartawan H. Aris Asnawi,  SE, memang menyisakan kisah-kisah inspiratif dan bermakna. Diantaranya, ketika berupaya memerangi praktek kemaksiatan, pengerukan Gunung Allakuang dari seorang pengusaha dan kasus a susila oknum polisi. 

Sebagaimana diketahui, setelah disemayamkan di rumah duka di Baranti Sidrap, sejak Selasa malam, 21 Mei 2024. Hari Rabu, 22 Mei 2024, jenazah Aris Asnawi lalu dimakamkan di Pemakaman Islam Paccini Kelurahan Baranti Sidrap. 

Aris Asnawi purnabakti wartawan dan aktivis ini, wafat di Rumah Sakit Ibnu Sina Jalan Urip Sumoharjo Makassar, Selasa, (21/5-2024), pukul 11.58 Wita dalam usia 60 tahun 7 bulan. Dia menghembuskan nafas terakhir setelah beberapa hari sebelumnya dirawat intensif karena penyakit diabetes.

Pria yang lahir di Baranti Kabupaten Sidrap, 17 Oktober 1963 itu meninggalkan seorang isteri, Asmawati asal Palopo dan 2 orang anak, drg Alfiansyah Ashari Asnawi dan Alfianah Ashari Asnawi.

Mengutip satu momen kisah pengalaman jurnalistik Aris Asnawi, waktu tepatnya tak sempat tercatat. Namun di era Bupati Sidrap Andi Salipolo Palaloi. Ketika itu lokasi Taman Wisata Datae di Kecamatan Watangpulu Sidrap sedang diberdayakan pemanfaatannya.

Pemkab Sidrap membuka kesempatan bagi pihak swasta ataupun masyarakat untuk masuk membuka usaha siang hari maupun malam hari. Intinya, pada malam hari di lokasi wisata tersebut disajikan berbagai hiburan.

Namun, ada satu pengusaha yang menyiapkan wanita penghibur bahkan, ramai diperbincangkan masyarakat ada praktek prostitusi terselubung.

Aris Asnawi menangkap informasi itu sehingga melakukan investigasi untuk check and recheck kasusnya. Ironisnya, becking praktek maksiat itu seorang teman jurnalis. Namanya, (maaf), tak disebutkan riil untuk menjaga privasi dan diberikan saja nama samaran Ferdy.

Rupanya Aris Asnawi bersikap tegas, meski dia tahu bahwa di belakang praktek tak terpuji itu ada si Ferdy, teman sendiri. Aris Asnawi mengangkat berita praktek kemaksiatan tersebut.

Akhirnya, masyarakat geger (kalau istilah digitalnya sekarang, kasusnya viral). Ujung-ujungnya, praktek prostitusi terselubung terseut terhenti.

Imbasnya, Ferdy marah besar kepada Aris Asnawi. Namun, Aris Asnawi tidak takut. Keduanya pun saling mengirim informasi menantang sehingga terjadi ketegangan.

Puncaknya, suasana menjadi panas. Beruntung dalam kondisi tegang itu keduanya tak pernah ketemuan. Kalau saja mereka sempat ketemu, sangat mungkin keduanya berantem atau terjadi bentrokan fisik.


Wajah garang Aris Asnawi, namun orangnya dikenal santun dan beradab. 
Aris Asnawi pernah Sorot Pengusaha 
yang Keruk Gunung Allakuang Sidrap

Anehnya, kedua jurnalis tersebut entah kenapa 'curhatnya' kepada penulis tentang kasus itu. Keduanya, Aris Asnawi maupun Ferdy memang kebetulan teman se-profesi penulis sebagai jurnalis dengan media yang berbeda.

Praktis, penulis berperan sebagai pahlawan tidak kesiangan yang berusaha mendinginkan 2 sosok jurnalis yang sedang menggenggam bara itu. Akhirnya, keduanya kembali damai dan akur.

Makanya, tanpa melakukan investigasi, penulis dapat mengetahui betul cikal-bakal, kronologis hingga endingnya kasus itu.

Maknanya, di balilk kemungkinan adanya kelemahan dan kekurangan sosok Aris Asnawi sebagai manusia biasa, nilai positif dan kelebihannya patut jadi cerminan jurnalis masa kini.

Mendiang Haji Aris adalah satu dari sekian sosok jurnalis pemberani, tegas dan pejuang kebenaran untuk kemaslahatan masyarakat di zamannya.

Itu baru satu kasus, di benak penulis ada sejumlah kasus kontrol yang telah disikapi Haji Aris semasa aktifnya sebagai wartawan. Namun, tak diulas semuanya.

Salah satunya lagi, Aris Asnawi juga pernah menyorot pengusaha yang mengeruk Pegunungan Allakuang Kecamatan Tellulimpoe, Sidrap, untuk mendapatkan keuntungan usahanya, namum terkesan abai dengan dampak lingkungan.

Ketika itu, Haji Aris mengkritisi bahwa ulah pengusaha, (maaf lagi, nama pengusaha bersangkutan tak tercatat). Yang jelas, Haji Aris melihat kegiatan itu berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang berbahaya bagi Allakuang bila tak terkendali.

Sementara hasil yang didapatkan masyarakat setempat yang diberdayakan, relatif kecil dan tak menyeluruh. Tak sempat juga di-investigasi bagaimana ending dari sorotan H Aris ketika itu.

Namun, yang pasti kritik tersebut paling tidak menjadi semacam peringtan bagi pengusaha untuk tidak seenaknya memanfaatkan potensi alam tanpa memikirkan dampaknya. 

Terakhir, senioritas dan salah satu petinggi Harian FAJAR saat ini, Arsyad Hakim yang sempat dihubungi, Rabu, (22/5-2024) ternyata punya kenangan tersendiri dengan mendiang Aris Asnawi dalam pengalaman jurnalistik

Ketika itu Arsyad Hakim masih hunting news di lapangan, sebagai wartawan Harian FAJAR, lantas muncul satu kasus menonjol yang heboh, terkait dengan kepolisian yang menjadi atensi masyarakat. Jelasnya, kasus asusila (pelecehan seksual) yang melibatkan sejumlah oknum polisi.

Arsyad Hakim, kini Wakil Ketua Bidang Kerjasama Nasional PWI Sulsel mengakui, ketika itu ia ditemani Aris Asnawi melakukan investigasi dengan kasus itu. Arsyad tak mau mengungkit-ungkit terlalu jauh tentang kasus usang itu, khawatir mencuat sebagai 'aib baru'.

"Yang  pasti, ketika itu saking hebohnya, belasan oknum polisi mendapat hukuman (sanksi), termasuk mutasi dan Kapolres dicopot," ujar Arsyad Hakim yang kini Direktur FAJAR Nasional Network.  (*)

Penulis : ABDUL MUIN L.O


Topik Terkait

Baca Juga :